Dari Aku ke Kita

Kota ini tak lagi tidur,

neon iklan berkedip seperti doa palsu kemakmuran.

Manusia jadi angka di layar perbankan,

menjual waktu, tenaga, dan impian demi bertahan,

sementara yang berkuasa terus menimbun kemenangan.

 

Namun di balik hiruk-pikuk itu,

ada suara kecil yang mulai bertanya:

“Apakah hidup hanya soal uang dan kuasa?”

Dari kampus, jalanan, hingga desa,

orang-orang mulai sadar bahwa mereka punya nasib yang sama.

 

Kesadaran kolektif lahir dari rasa senasib,

ketika “aku” berubah menjadi “kita”.

Dari saling peduli tumbuh keberanian,

dari keberanian lahir harapan,

dan dari harapan muncul langkah bersama.

 

Mahasiswa tak lagi hanya belajar di kelas,

tapi juga di tengah masyarakat yang berjuang.

Ilmu bukan sekadar nilai di kertas,

melainkan senjata untuk membuka mata,

melihat ketimpangan dan berbuat nyata.

 

Neoliberalisme tak tumbang oleh satu suara,

tapi oleh jutaan hati yang menolak tunduk pada kuasa.

Ketika “aku” melebur menjadi “kita”,

setiap langkah menjadi perlawanan.

Puisi “Dari Aku ke Kita” menggambarkan perubahan dari kesadaran individu menuju kesadaran bersama di tengah dunia modern yang dipenuhi kesibukan, ketimpangan, dan dominasi kekuasaan ekonomi. Dalam masyarakat yang menilai segalanya dengan uang dan kekuasaan, manusia perlahan kehilangan makna kemanusiaannya dan terjebak dalam sistem yang tidak adil. Namun, di balik hiruk-pikuk kehidupan itu, muncul kesadaran baru—orang-orang mulai menyadari bahwa mereka memiliki nasib dan perjuangan yang sama. Dari rasa senasib itu tumbuh kepedulian, keberanian, dan harapan untuk bergerak bersama melawan ketimpangan yang ada.

 

Puisi ini juga menegaskan peran mahasiswa sebagai agen perubahan yang tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi turut hadir di tengah masyarakat. Ilmu dijadikan alat untuk membuka mata terhadap realitas sosial dan mendorong tindakan nyata dalam memperjuangkan keadilan. Secara keseluruhan, puisi ini menampilkan perjalanan dari kesadaran diri menuju kesadaran kolektif yang melahirkan kekuatan sejati yakni kekuatan yang tumbuh dari kebersamaan dan solidaritas dalam menghadapi ketidakadilan sosial.

Scroll to Top