Lelah yang Tak Kita Kenali Asalnya
Neoliberalisme telah menjadi rezim rasionalitas yang mengatur hampir seluruh aspek kehidupan modern. Neoliberalisme tidak hanya berfungsi sebagai sistem ekonomi, tetapi juga sebagai pola pikir yang memengaruhi cara manusia memahami diri, pekerjaan, hubungan sosial, dan nilai-nilai dalam kehidupannya. Produktivitas dipandang sebagai ukuran utama moralitas dan keberhargaan diri. Individu yang kelelahan dimaknai sebagai kurangnya komitmen atau rasa syukur, sementara kemiskinan direduksi menjadi kegagalan personal dalam mengelola diri, bukan sebagai hasil dari ketimpangan pada struktur sosial. Individu didorong untuk terus memperbaiki kompetensi, mengembangkan citra diri, dan terus bersaing dalam pasar yang secara retoris dikonstruksikan sebagai arena netral yang dapat diakses oleh setiap individu. Di balik gambaran tersebut, neoliberalisme menyembunyikan struktur ketimpangan yang telah tertanam secara historis dan dilegitimasi melalui mekanisme ideologis yang tidak tampak sebagai pemaksaan. Di titik inilah teori negara dan ideologi Nicos Poulantzas menjadi relevan untuk membaca bagaimana kekuasaan neoliberal bekerja.
Poulantzas menolak memisahkan ideologi dari struktur material. Baginya, ideologi bukan sekadar gagasan yang beredar di ruang publik, tetapi bagian integral dari relasi material yang menopang kekuasaan kelas. Ia beroperasi melalui institusi, aturan, tata kelola, kebiasaan sosial, dan nilai- nilai yang dinormalisasi sebagai “kewajaran”. Ideologi tidak hanya memberi makna pada struktur dan dinamika sosial, tetapi juga membentuk cara individu berperilaku di dalamnya. Dengan demikian, ideologi berfungsi memastikan bahwa dominasi kelas tidak tampak sebagai dominasi, melainkan sebagai konfigurasi sosial yang diterima sebagai hal yang normal dan tidak perlu dipertanyakan.. Dalam kerangka inilah neoliberalisme memanfaatkan ideologi untuk menanamkan logika pasar ke dalam tatanan kehidupan yang paling intim dan personal, sehingga konflik kelas yang inheren dalam kapitalisme bergeser menjadi persoalan moral atau persoalan pada level individu.
Neoliberalisme menempatkan individu sebagai “entrepreneur of the self”, yaitu subjek yang bertanggung jawab penuh atas keberhasilan dan kegagalannya. Pemaknaan diri sebagai modal yang harus dioptimalkan membuat individu terlibat dalam proses eksploitasi diri secara sukarela. Jika kapitalisme industrial mengatur subjek lewat bentuk-bentuk disiplin yang bersifat eksternal, neoliberalisme bekerja dengan menginternalisasi etos produktivitas ke dalam kesadaran individu. Individu didorong untuk mengawasi dirinya sendiri, mengatur ritme kerjanya, dan bahkan menekan dirinya agar tetap kompetitif di tengah situasi yang semakin tidak stabil. Dalam logika ini, ketimpangan yang sebenarnya lahir dari struktur ekonomi justru disamarkan sebagai perbedaan usaha dan kemampuan pribadi. Karena itu, neoliberalisme tidak hanya mengubah cara orang bekerja, tetapi juga cara mereka memahami kesalahan, kegagalan, kecemasan, dan bahkan siapa diri mereka.
Arena pendidikan menjadi salah satu medium paling efektif bagi reproduksi ideologi neoliberal. Universitas yang seharusnya menjadi ruang pembentukan warga kritis, berubah menjadi pabrik produksi “SDM unggul” yang siap mengisi pasar kerja. Kurikulum, cara mengajar, dan arah pengelolaan kampus disusun untuk mengikuti kebutuhan pasar kerja. Kreativitas tidak lagi dihargai sebagai kemampuan berpikir kritis atau menciptakan gagasan baru, tetapi diukur dari seberapa jauh mereka bisa bersaing dalam pasar tenaga kerja. Proses refleksi yang seharusnya mendorong mahasiswa memahami masalah sosial pun bergeser menjadi dorongan agar mereka terus membangun citra dan mempromosikan diri. Mahasiswa didorong untuk melihat pendidikan sebagai investasi personal, bukan sebagai hak sosial atau sarana pembentukan kesadaran politik. Dalam perspektif Poulantzas, universitas berperan sebagai aparatus ideologis negara yang membantu menanamkan cara pandang yang selaras dengan kepentingan kapital. Ketimpangan
struktural dengan demikian tidak ditafsirkan sebagai hasil relasi politik-ekonomi, tetapi sebagai masalah adaptasi individu terhadap tuntutan pasar.
Media dan budaya populer memperkuat proses ini melalui narasi-narasi sederhana tentang kerja keras, kesuksesan, dan kebebasan berusaha. Konten motivasi, influencer, dan iklan perusahaan memproduksi citra bahwa siapa pun dapat mencapai apa pun jika memiliki tekad yang cukup kuat. Narasi meritokrasi yang disebarkan secara masif menutupi kenyataan bahwa akses terhadap sumber daya ekonomi dan sosial sangat ditentukan oleh kelas, gender, dan posisi sosial. Masyarakat didorong untuk tidak lagi melihat struktur, tetapi hanya melihat kemampuan personal. Akibatnya, solidaritas sosial perlahan melemah, setiap orang cenderung memikul penderitaannya sendiri, dan persaingan meresap ke dalam kehidupan sehari-hari sebagai sesuatu yang dianggap wajar dan bahkan benar. Neoliberalisme dengan demikian tidak hanya bekerja melalui institusi formal, tetapi juga melalui formasi budaya yang membentuk imajinasi kolektif tentang apa yang dianggap mungkin, pantas, dan wajar.
Kesatuan antara ekonomi, politik, dan ideologi dalam neoliberalisme menunjukkan bagaimana sistem ini bertahan bukan semata-mata melalui kebijakan ekonomi, tetapi melalui pembentukan kesadaran sosial. Secara ekonomi, neoliberalisme mendorong deregulasi, privatisasi, dan fleksibilitas tenaga kerja. Secara politik, negara menjalankan peran yang memprioritaskan kepentingan pasar, sementara fungsi perlindungan sosial semakin dipinggirkan. Secara ideologis, individu dibentuk untuk percaya bahwa tatanan tersebut adalah wajar dan tak terelakkan. Poulantzas menekankan bahwa negara dalam kapitalisme memiliki “otonomi relatif”, yaitu kemampuan tampil netral sementara pada saat yang sama mereproduksi struktur dominasi kelas. Otonomi inilah yang membuat kebijakan neoliberal tampak seolah-olah rasional dan teknokratis, padahal sesungguhnya merupakan pilihan politik yang menguntungkan kelas tertentu.
Neoliberalisme beroperasi hingga ke tingkat kesadaran, sehingga perlawanan terhadapnya tidak dapat dibatasi pada kritik kebijakan publik atau ekonomi saja. Perlawanan harus menyasar medan ideologi dan budaya, yaitu ruang-ruang tempat kesadaran dibentuk seperti sekolah, universitas, media, seni, dan komunitas digital. Rekonstruksi atas nilai-nilai yang telah dinormalisasi, seperti kompetisi, produktivitas, dan efisiensi, menjadi langkah kunci untuk menghadirkan nilai-nilai baru yang berorientasi pada solidaritas, keberlanjutan sosial, dan martabat manusia. Sebagaimana semangat dalam teori Poulantzas, perjuangan kelas dalam konteks neoliberal merupakan perjuangan di tingkat makna, yaitu pertarungan untuk mendefinisikan bagaimana manusia memahami dirinya, sesamanya, dan dunia yang melingkupinya. Kesadaran kritis menjadi syarat untuk melampaui individualisasi persoalan dan memulihkan kembali daya kolektif sebagai kekuatan transformasi sosial.
Melalui kerangka teoretis Poulantzas, kita dapat melihat bahwa tantangan terbesar neoliberalisme bukan terletak pada kebijakan ekonominya semata, tetapi pada kemampuannya membentuk cara manusia memaknai hidupnya. Selama logika pasar tetap diterima sebagai prinsip utama dalam menilai diri dan orang lain, maka dominasi neoliberal akan terus menemukan jalannya untuk bertahan. Membuka ruang bagi kesadaran kritis, membangun kembali imajinasi sosial yang lebih adil, dan memperkuat tindakan kolektif menjadi langkah penting untuk meretakkan hegemoni tersebut. Dengan demikian, perjuangan melampaui neoliberalisme bukan hanya soal merumuskan alternatif kebijakan, tetapi juga tentang membayangkan ulang kemungkinan-kemungkinan sosial yang selama ini dikaburkan oleh ideologi pasar. Di titik inilah teori Poulantzas tidak hanya membantu kita membaca dunia, tetapi juga mengajarkan bagaimana dunia dapat diubah.
Pada akhirnya, tantangan terbesar bukan sekadar membongkar struktur neoliberalisme, tetapi membebaskan imajinasi kita dari batas-batas yang diciptakannya. Karena perubahan sosial selalu dimulai dari keberanian untuk membayangkan kehidupan di luar orbit kapitalisme
Referensi:
Pamungkas, B. (2023). Hegemoni neoliberalisme pendidikan tinggi di Indonesia. IndoProgress. https://talenta.usu.ac.id/jlpsp/article/download/15810/7280/57 779 . Diakses 15 November 2025.
IndoProgress. (2009). Sesat neoliberalisme. IndoProgress. https://indoprogress.com/2009/05/ sesat-neoliberalisme/ Diakses 15 November 2025.
Trisakti University. (2020). Indonesia dalam kubangan neoliberalisme. Jurnal Pakar, 10(2), 34-
- https://e-journal.trisakti.ac.id/index.php/pakar/article/download/2723/2351/6694.
Diakses 18 November 2025.
IndoProgress. (2015). Pergeseran paradigma neoliberal. IndoProgress. https://indoprogress.com/ 2015/06/pergeseran-paradigma-neoliberal/ Diakses 18 November 2025.