Represi Sunyi dalam Ruang Rawat

Di meja kebijakan yang dingin dan jauh dari rakyat,
kesehatan diraba seperti komoditas tanpa nadi.
Angka-angka menari, menutup jerit yang tak tercatat,
seolah nyawa hanyalah grafik yang bisa naik-turun sesuka hati.

Puskesmas berdiri ringkih di pinggir zaman,
sementara gedung kaca swasta memantulkan cahaya kesenjangan.
Di balik klaim efisiensi dan modernisasi yang diunggulkan,
terselip tanya: siapa yang sebenarnya dibangun, siapa yang ditinggalkan?

Obat menjadi doa mahal yang tak semua bisa ucapkan,
hilang makna ketika harganya ditentukan rapat para pemegang saham.
Tangan-tangan kapital mengukur sakit dengan timbangan keuntungan,
menjadikan derita sebagai statistik, bukan alasan untuk peduli dalam.

Tenaga kesehatan berdiri di antara idealisme dan kelelahan,
menjadi perisai terakhir bagi rakyat yang tak mampu beli perlindungan.
Namun sistem menjerat mereka dalam target dan tuntutan,
hingga empati pun kadang dirampas kondisi yang tak manusiawi lagi dirasakan.

Dan di tengah luka struktural yang menganga itu,
terdengar bisik perlawanan yang tumbuh dari harapan.
Bahwa kesehatan bukan barang dagangan yang bisa diperjualbelikan,
melainkan urat nadi bangsa yang hanya pulih bila keadilan dipulihkan.

“Represi Sunyi” berarti penekanan, ketidakadilan, atau penderitaan yang terjadi secara diam-diam, tanpa suara protes, tanpa terlihat jelas. “Dalam Ruang Rawat” berarti di dalam sistem layanan kesehatan, tempat orang seharusnya disembuhkan. Judul ini menggambarkan bahwa ada bentuk ketidakadilan atau penindasan yang terjadi dalam sistem kesehatan tetapi diam, tidak terlihat, tidak diprotes, dan sering dianggap normal.

Bait 1: Kebijakan kesehatan lebih mengikuti logika pasar (uang dan angka), bukan kebutuhan manusia. Nyawa tidak diprioritaskan, hanya dianggap data.

Bait 2: Fasilitas kesehatan swasta berkembang pesat, tetapi layanan kesehatan publik tertinggal. Akibatnya muncul kesenjangan besar antara yang mampu dan tidak mampu.

Bait 3: Harga obat dan alat kesehatan ditentukan perusahaan besar demi keuntungan. Obat menjadi mahal dan rakyat miskin sulit mendapatkannya.

Bait 4: Dokter, perawat, dan tenaga kesehatan tertekan oleh sistem. Mereka ingin menolong, tetapi dibatasi aturan, target, dan beban kerja yang berat, sehingga empati mereka ikut terkikis.

Bait 5: Walaupun sistemnya buruk, masih ada harapan untuk memperbaiki. Kesehatan harus dianggap hak semua orang, bukan barang jualan. Perubahan perlu dilakukan agar layanan kesehatan menjadi adil dan merata.

Scroll to Top