Manifesto Hitam dari Ruang Kelas yang Terjajah
Di altar pendidikan yang dahulu sunyi dan suci tanpa cela,
kini berdiri pasar dengan mulut rakus menganga.
Ia menukar martabat pengetahuan dengan katalog harga,
menjadikan akal budi barang lelang tanpa daya dan tanpa doa,
sebuah nestapa yang dibiarkan tumbuh tanpa siapa pun yang bersuara.
Dalam lorong-lorong ambisi kapital yang pekat seperti malam,
Ilmu dipasung seperti tahanan terkubur dalam kelam.
Mereka yang ingin belajar dipaksa menunduk terjerat kejam,
Sementara para pedagang kepentingan menari tanpa muram,
Di atas reruntuhan keadilan yang telah lama tenggelam.
Para pencari hikmah dicap sebagai konsumen abadi,
Digiring dalam kandang modernitas palsu yang sepi.
Mereka membeli janji yang rapuh bagai debu mati,
Sedang para elite meneguk keuntungan dengan hati besi,
Menyebutnya mutu, padahal hanyalah tipu daya yang membusuk sunyi.
Para pendidik berubah menjadi penjaga mesin birokrasi yang lapar kekuasaan
ditakik laporan, indikator, tuntutan mengeras di dalam kesadaran.
Mereka dijejali angka sampai mimpi pun kehilangan bayangan,
seakan pendidikan hanyalah pabrik sunyi penghasil kepatuhan,
tempat ruh pengajaran terkubur tanpa perlawanan.
Namun dari rahim gelap ketidakadilan lahir amarah yang bergemuruh panjang,
mendidih hebat sebagai suara yang tak lagi bisa dibungkam orang,
ia berseru bahwa pendidikan bukan pesanan pasar yang murahan dan hilang,
melainkan hak asasi yang tak boleh dicabik tangan-tangan tamak yang datang,
yang mengira masa depan umat manusia dapat mereka beli dan giring ke jurang.
Puisi “Manifesto Hitam dari Ruang Kelas yang Terjajah” lahir dari kegelisahan mendalam terhadap perubahan wajah pendidikan di era neoliberalisme. Pendidikan yang seharusnya menjadi ruang pembebasan, tempat manusia dibentuk melalui dialog, keingintahuan, dan pemaknaan, kini semakin terkooptasi oleh logika pasar yang dingin dan seragam. Ketika ruang belajar diperlakukan sebagai komoditas, nilai-nilai yang seharusnya dijunjung kesetaraan, akses, kejujuran intelektual, kebebasan berpikir perlahan terkikis. Puisi ini ditulis sebagai bentuk protes yang tidak hanya rasional, tetapi eemosiona, sebagai jeritan yang ingin menolak reduksi pendidikan menjadi industri jasa, sebagai seruan agar publik menyadari bahwa masa depan generasi bukanlah barang dagangan yang boleh diperdagangkan kepada siapa pun yang memiliki modal paling besar. Karena itu, bahasa yang digunakan sengaja dibuat gelap, dan bernada marah, sebab kekerasan struktural yang terjadi dalam sistem pendidikan hari ini tidak bisa dijawab dengan kata-kata lunak.