BEM FKM Unhas Dorong Penguatan Implementasi Pengelolaan Sampah Kampus melalui Dialog Interaktif

Share it

BEM FKM Unhas Dorong Penguatan Implementasi Pengelolaan Sampah Kampus melalui Dialog Interaktif

Makassar, 19 Desember 2025

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin (BEM FKM Unhas) melalui Kementerian Kajian Strategi dan Advokasi (Kastrad) menyelenggarakan Dialog Interaktif Implementasi Peraturan Rektor Universitas Hasanuddin, tentang Pengelolaan Sampah sebagai upaya penguatan kebijakan lingkungan kampus dan pengawalan isu krisis iklim yang bertempat di Ruang Prof. Nur Nasry Noor (K-225), Lantai 2 FKM Unhas.

 

Dialog yang mengusung tema “Menggerakkan Civitas Akademika dalam Implementasi Kebijakan Pengelolaan sampah sebagai Upaya Mitigasi Krisis iklim dan Pencapaian Green Campus Universitas Hasanuddin” ini secara resmi dibuka oleh Wakil Dekan I Fakultas Kesehatan Masyarakat Unhas, Dr. Wahiduddin, SKM, M.kes dan dihadiri oleh Civitas akademika seperti, jajaran wakil dekan fkm, para dosen, petugas cleaning service Unhas, mahasiswa,  serta lembaga mahasiswa tingkat fakultas se-Universitas Hasanuddin.

Dialog interaktif ini menghadirkan Tim Green Metric UI Universitas Hasanuddin, Dr. Eng. Ir. Irwan Ridwan Rahim, S.T., M.T., sebagai pembicara utama. Dalam pemaparannya, ia menegaskan bahwa tantangan pengelolaan sampah kampus Unhas terletak pada lemahnya integrasi sistem dan keseriusan implementasi kebijakan.

“Jika pengelolaan sampah kita masih menjadikan TPA sebagai ujung tombak, maka universitas tidak berbeda dengan institusi pendidikan lain. Padahal, Unhas seharusnya menjadi contoh pengelolaan sampah yang benar dan berkelanjutan,” ujar Dr. Irwan.

Ia menjelaskan bahwa hingga saat ini pengelolaan sampah di Kampus Tamalanrea masih menghadapi kendala struktural dan sistemik. Pola pengelolaan yang berjalan masih didominasi skema kumpul–angkut–buang, dengan timbulan sampah mencapai 3–4 kontainer per hari yang seluruhnya bermuara ke TPA Tamangapa, tanpa pengolahan terpadu di tingkat kampus.

Ia mengungkapkan bahwa wadah tempat sampah di lingkungan kampus belum seragam, serta belum memiliki kejelasan pemilahan antara sampah organik, anorganik, dan B3, sehingga menyulitkan proses pengolahan lanjutan. Selain itu, hingga kini belum terdapat petunjuk teknis (juknis) operasional yang mengatur pengelolaan sampah kampus secara terintegrasi sebagai turunan kebijakan rektor.

“Kita belum memiliki sistem pengelolaan sampah kampus dari hulu ke hilir yang benar-benar berjalan. Tidak ada organisasi pengelola yang bertugas merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi, dan mengembangkan pengelolaan sampah secara berkelanjutan,” ujar Dr. Irwan.

Lebih lanjut, ia menyoroti bahwa tidak terintegrasinya pengelolaan sampah antara fakultas dan rektorat berdampak pada pengalokasian anggaran yang tidak tepat sasaran, serta belum optimalnya pengembangan fasilitas pengolahan seperti TPS3R terpadu dan bank sampah kampus. Penggunaan teknologi mekanis pengolahan sampah juga dinilai masih sangat terbatas.

 

Selain aspek kelembagaan dan infrastruktur, Dr. Irwan menekankan bahwa rendahnya partisipasi civitas akademika menjadi tantangan utama, baik dalam praktik pemilahan sampah sehari-hari maupun dalam implementasi kebijakan pengelolaan sampah di tingkat fakultas.

Berdasarkan policy brief Kementerian Kastrad BEM FKM Unhas, ditemukan sejumlah persoalan utama, seperti belum meratanya fasilitas tempat sampah terpilah, rendahnya partisipasi civitas akademika, belum optimalnya bank sampah, serta ketiadaan sistem monitoring dan evaluasi pengelolaan sampah yang terintegrasi.

Melalui kegiatan ini, BEM FKM Unhas mendorong penyusunan rekomendasi strategis, antara lain rekomendasi untuk dilakukan penyusunan SOP pengelolaan sampah fakultas, optimalisasi TPS3R, reaktivasi bank sampah kampus, serta penguatan edukasi dan budaya pemilahan sampah di lingkungan Universitas Hasanuddin.

Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen Kementerian Kastrad BEM FKM Unhas Periode 2025–2026 dalam mengawal isu krisis iklim, kebijakan lingkungan kampus, dan kesehatan masyarakat, sekaligus memperkuat peran mahasiswa sebagai agen perubahan menuju Universitas Hasanuddin yang hijau, sehat, dan berkelanjutan

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top