Benih dari Luka, Cahaya dari Hening
Di antara puing pasar dan gemerincing ilusi kemakmuran, ada tangan-tangan kecil menanam cahaya Mereka tak melawan dengan api, tapi dengan benih kesadaran yang tumbuh dari luka.
Dunia kini dijajah oleh bayangan yang memuja angka, oleh cermin yang hanya mencintai dirinya sendiri. Namun gerakan ini berjalan di antara kabut, menyulam nurani dari benang-benang yang terlupakan.
Di ujung jembatan, tak ada tuan, tak ada laba. Hanya manusia yang saling menatap dalam hening, menyadari: kebebasan bukan barang dagangan, melainkan gema lembut dari hati yang saling memahami.
Dari reruntuhan wacana yang direkayasa, mereka memungut sunyi sebagai senjata. Sebab di balik hiruk-pikuk yang mengiringi para penguasa, ada kekuatan lembut yang tumbuh dalam diam: keberanian merawat sesama.
Dan ketika waktu perlahan membuka lipatan-lipatan luka, mereka belajar bahwa harapan tidak selalu datang dari terang. Kadang ia lahir dari malam yang paling asing. menjadi suluh kecil yang menuntun langkah pulang.
Makna:
Pada akhirnya, puisi ini menegaskan bahwa kebebasan dan kemanusiaan tidak lahir dari laba atau struktur hierarkis, tetapi dari pertemuan batin manusia yang saling memahami dalam hening. Di tengah kesakitan dan keterbatasan, harapan justru tumbuh dari proses refleksi yang mendalam, dari keberanian untuk menatap luka dan menjadikannya suluh bagi langkah berikutnya. Dari malam yang gelap dan pengalaman paling asing, manusia menemukan kembali arah bukan menuju dunia yang dikuasai angka, tetapi menuju ruang sadar yang dibangun bersama, perlahan, dalam solidaritas dan ketulusan.