Di Balik Pasar Bebas

Uang mengalir tanpa suara di pasar gelap,
Janji pasar bebas hanya topeng semu,
Tanah yang dulu subur kini tergadai,
Rakyat termenung di bawah bayang kelabu.

 
Penangkap ikan pulang tanpa tangkapan,
Suara mereka tenggelam oleh mesin baru,
Neoliberalisme datang perlahan, tanpa gemuruh,
Merenggut harapan yang makin pupus.

 
Kota menjulang tapi hati tetap kosong,
Rakyat mengejar mimpi yang terus menjauh,
Pasar tak peduli pada jiwa yang terluka,
Manusia tersisih saat uang jadi raja.

 
Di tengah hiruk dunia yang kejam,
Masih ada yang bertahan menjaga warisan,
Melawan arus, mencari ruang untuk hidup,
Agar negeri bukan sekadar angka.

 
Neoliberalisme bukan akhir segalanya,
Tapi tembok yang harus kita runtuhkan,
Agar suara rakyat kembali didengar,
Di bawah langit penuh keberanian.

Makna Puisi:

Neoliberalisme di Indonesia saat ini telah menunjukkan kegagalan dalam mewujudkan janji keadilan sosial dan pemerataan kesejahteraan. Kebijakan pasar beban dan privatisasi justru menimbulkan ketimpangan yang semakin dalam, di mana kekayaan terkonsentrasi di tangan segelintir elite, sementara mayoritas rakyat menghadapi kesulitan ekonomi yang berat. Kesenjangan ini terlihat nyata dalam distribusi kekayaan yang sangat timpang.

Sektor-sektor penting seperti pendidikan dan kesehatan semakin terkomodifikasi. Layanan-layanan dasar tersebut tidak lagi dianggap sebagai hak yang harus dijamin negara, tapi menjadi barang dagangan yang hanya bisa dinikmati oleh yang mampu membayar mahal. Akibatnya, akses masyarakat miskin dan terpinggirkan ke layanan esensial tersebut semakin terbatas.

Para pekerja informal seperti nelayan dan petani kecil ditekan oleh mekanisme pasar yang tidak adil. Mereka kehilangan ruang hidup dan mata pencaharian karena persaingan tidak seimbang dengan korporasi besar dan teknologi modern yang tidak disertai perlindungan sosial yang memadai. Hal ini membuat mereka semakin rentan dan tersisih dari pertumbuhan ekonomi.

Ketimpangan sosial yang melebar memicu banyak protes dan demonstrasi di berbagai daerah. Rakyat menuntut keadilan, bukan sekadar kenaikan upah atau harga yang lebih stabil. Mereka merasa terabaikan oleh sistem yang lebih menguntungkan kelompok pengusaha dan elit politik, sehingga rasa frustrasi dan kemarahan semakin memuncak.

Secara keseluruhan, neoliberalisme di Indonesia hari ini menimbulkan masalah serius yang perlu segera diatasi. Model ekonomi ini terlalu menekankan pertumbuhan dan pasar bebas, sementara keadilan sosial dan perlindungan rakyat kecil terabaikan. Solusi yang dibutuhkan adalah model pembangunan yang mampu memberikan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan keadilan sosial, agar semua lapisan masyarakat bisa hidup layak dan bermartabat.

Scroll to Top