Kelas yang Tak Pernah Usai: Neoliberalisme dan Posisi Kontradiktif dalam Teori Wright
Neoliberalisme sebagai sebuah paradigma ekonomi-politik global telah mendominasi tatanan sosial sejak akhir abad ke-20. Ia menekankan liberalisasi pasar, deregulasi, privatisasi, fleksibilitas tenaga kerja, serta pembatasan peran negara dalam penyediaan layanan publik. Dampak dari ideologi ini adalah semakin terbukanya ruang bagi akumulasi kapital yang cepat, namun di sisi lain memunculkan ketimpangan sosial-ekonomi yang semakin tajam. Dalam konteks inilah teori kelas Erik Olin Wright menjadi penting, terutama terkait dengan konsep posisi kelas yang kontradiktif, yang dapat membantu menjelaskan kerumitan struktur kelas pada era neoliberal (Harvey, 2005).
Erik Olin Wright, seorang sosiolog neo-Marxis, berupaya mengembangkan teori kelas yang lebih kompleks dibandingkan dengan analisis kelas tradisional Karl Marx. Marx menekankan polarisasi masyarakat menjadi dua kelas utama: borjuis (pemilik alat produksi) dan proletar (pekerja upahan). Namun, Wright (1985) melihat bahwa realitas sosial modern menunjukkan adanya banyak lapisan kelas di antara dua kutub tersebut. Dengan demikian, ia memperkenalkan gagasan mengenai contradictory class locations atau posisi kelas yang kontradiktif. Posisi ini ditempati oleh individu atau kelompok yang memiliki ciri-ciri campuran: mereka bukan sepenuhnya borjuis, tetapi juga tidak sepenuhnya proletar.
Posisi kelas kontradiktif tersebut dapat dilihat pada peran manajer, supervisor, atau teknisi terampil. Mereka tidak memiliki alat produksi, sehingga pada satu sisi mereka tunduk pada logika kapitalisme. Namun, mereka juga memiliki kewenangan untuk mengontrol tenaga kerja lain, sehingga dalam praktiknya dapat bertindak sebagai perpanjangan tangan kepentingan kapitalis. Situasi inilah yang membuat posisi mereka bersifat kontradiktif—mereka memiliki kepentingan bersama kelas pekerja (misalnya dalam hal upah dan kondisi kerja), tetapi juga memiliki keterikatan dengan kelas kapitalis karena perannya dalam mengawasi dan mengendalikan pekerja lain (Wright, 1997).
Dalam era neoliberalisme, kontradiksi kelas semakin tajam dan kompleks. Kebijakan neoliberal menciptakan lapisan kelas menengah baru yang bekerja sebagai profesional, konsultan, pegawai kontrak, hingga manajer menengah. Meskipun mereka memperoleh keuntungan berupa gaji lebih tinggi, status sosial, dan akses terhadap jaringan elit, namun mereka tetap terikat dalam sistem kerja yang rentan. Fleksibilitas tenaga kerja yang diagungkan neoliberalisme justru menghadirkan ketidakpastian, seperti kontrak kerja jangka pendek, minimnya jaminan sosial, serta ancaman pemutusan hubungan kerja sewaktu-waktu. Dengan demikian, kelas menengah profesional ini hidup dalam ambiguitas: mereka relatif diuntungkan dibandingkan pekerja biasa, tetapi tidak sepenuhnya aman dari eksploitasi kapitalisme global (Bourdieu, 1998).
Fenomena prekarisasi—yakni ketidakpastian dan kerentanan dalam pekerjaan—menjadi salah satu ciri utama neoliberalisme. Wright membantu menjelaskan bahwa pekerja yang berada dalam sektor informal, gig economy, atau freelance juga berada dalam posisi kelas yang kontradiktif. Mereka sering digambarkan sebagai “wirausaha mandiri”, padahal realitasnya mereka masih sangat bergantung pada logika pasar dan perusahaan besar yang menguasai platform digital. Misalnya, pengemudi ojek daring atau kurir ekspedisi di Indonesia kerap dianggap sebagai “mitra” perusahaan. Namun, secara struktural mereka tetap berada dalam posisi subordinat, tunduk pada sistem algoritmik perusahaan, dan tidak memiliki kepastian pendapatan (Harvey, 2005).
Contoh konkret di Indonesia memperlihatkan bagaimana posisi kelas kontradiktif ini beroperasi dalam kehidupan sehari-hari. Fenomena outsourcing misalnya, banyak ditemui di sektor manufaktur, perbankan, hingga layanan publik. Pekerja outsourcing sering kali melakukan pekerjaan yang sama dengan karyawan tetap, tetapi dengan status kerja berbeda, upah lebih rendah, dan minim perlindungan. Mereka berada dalam posisi kontradiktif: di satu sisi berfungsi penting bagi keberlangsungan perusahaan, tetapi di sisi lain tidak menikmati keuntungan struktural dari pekerja formal. Begitu pula dengan pekerja informal seperti pedagang kaki lima atau buruh harian, yang meskipun dianggap “mandiri”, tetap bergantung pada pasar dan rentan digusur tanpa perlindungan hukum yang memadai. Sedangkan pada sektor ojek online, para pengemudi diposisikan sebagai “mitra independen”, padahal dalam praktiknya mereka bergantung sepenuhnya pada aplikasi, aturan perusahaan, dan algoritma yang mengatur insentif, sehingga kebebasan mereka sangat terbatas. Kondisi ini menunjukkan bahwa neoliberalisme di Indonesia menciptakan lapisan-lapisan sosial yang penuh ambiguitas dan kontradiksi kelas (Tjandraningsih, 2012).
Selain itu, neoliberalisme turut memperdalam kesenjangan global. Kelas pekerja di negara berkembang sering kali dipaksa menerima kondisi kerja dengan upah rendah demi menarik investasi asing. Sementara itu, kelas menengah profesional di negara maju pun menghadapi tekanan kompetisi global akibat relokasi industri dan kebijakan outsourcing. Hal ini memperlihatkan bahwa kontradiksi kelas bukan hanya fenomena domestik, tetapi juga lintas negara. Posisi kelas kontradiktif muncul dalam skala global, di mana pekerja di satu negara mungkin mendapat keuntungan relatif, tetapi tetap rentan terhadap dinamika kapitalisme transnasional (Wright, 1997).
Dari perspektif politik, posisi kelas kontradiktif ini memiliki implikasi yang penting. Wright berargumen bahwa kelas menengah profesional dapat berperan sebagai agen yang memperkuat hegemoni kapitalisme dengan menjalankan fungsi kontrol atas pekerja. Namun, dalam kondisi tertentu, kesadaran kritis dapat muncul dari lapisan ini, sehingga mereka berpotensi menjadi bagian dari gerakan perlawanan terhadap neoliberalisme. Dengan kata lain, posisi kontradiktif ini bisa menjadi sumber ketegangan sosial, tetapi sekaligus membuka peluang bagi solidaritas kelas lintas sektor (Wright, 1985).
Dengan demikian, teori posisi kelas kontradiktif Wright memberikan pemahaman yang lebih tajam mengenai bagaimana neoliberalisme tidak hanya menciptakan polarisasi sederhana antara borjuis dan proletar. Sebaliknya, neoliberalisme menghasilkan struktur kelas yang lebih kompleks, penuh ambiguitas, dan sarat kontradiksi. Lapisan-lapisan baru yang terbentuk dalam kelas menengah mencerminkan sekaligus memperkuat logika kapitalisme, tetapi juga menyimpan potensi resistensi. Tantangan ke depan adalah bagaimana kontradiksi ini dapat diarahkan untuk membangun kesadaran kolektif, memperkuat solidaritas, dan melahirkan gerakan sosial yang mampu menentang ketidakadilan neoliberalisme (Harvey, 2005).
Daftar Pustaka
- Bourdieu, Pierre. Acts of Resistance: Against the New Myths of Our Time. Cambridge: Polity Press, 1998.
- Harvey, David. A Brief History of Neoliberalism. Oxford: Oxford University Press, 2005.
- Tjandraningsih, Indrasari. Outsourcing dan Prekarisasi Pekerjaan di Indonesia. Jakarta: Trade Union Rights Centre, 2012.
- Wright, Erik Olin. Classes. London: Verso, 1985.
- Wright, Erik Olin. Class Counts: Comparative Studies in Class Analysis. Cambridge: Cambridge University Press, 1997.