Posisi yang Tak Pernah Selesai

Di bawah cahaya neoliberal yang kian menyilaukan,
manusia berjalan dengan harapan yang dipangkas pasar-pasaran.
Kelas bukan lagi tembok tegas yang memisahkan,
melainkan lorong-lorong kabur tempat mimpi sering tersesatkan,
di mana kepemilikan dan tenaga bercampur dalam diam-diaman.

Erik Olin Wright membisikkan bahwa kontradiksi itu nyata-nyataan,
ketika pekerja menjadi pengawas, namun tetap dibatasi kuasaan.
Mereka memerintah sambil diperintah dalam tekanan,
tanpa benar-benar memiliki jabatan,
terjebak di tengah pusaran kapital yang tak pernah reda-redaan.

Neoliberalisme menjanjikan kebebasan tanpa batas-batasan,
namun membungkusnya dengan kompetisi yang justru menjeratkan.
Di kelas yang saling tumpang tindih ini, dalam perjalan-an,
orang bisa naik, bisa jatuh dalam ketidaksiapan,
namun jarang benar-benar bebas dari bayang struktur yang jadi bayangan.

Kelas menengah menjadi saksi paling hening-heningan,
menjaga sistem sambil tercekik oleh tuntutannya yang jadi beban-bebanan.
Mereka bukan pemilik, bukan pula buruh sepenuhnya dalam tekanan,
melainkan simpul kontradiksi yang terus dipertahankan,
agar roda pasar tetap berputar dalam kepastian-kepastianan.

Dan di antara hiruk pikuk janji ekonomi yang megah-megahan,
terdengar bisikan bahwa perubahan lahir dari memahami letak luka-lukaan.
Posisi kelas yang kontradiktif bukan sekadar teori dalam kajian,
melainkan cermin dunia yang kita huni di kehidupan,
tempat perjuangan mencari makna tetap menyala dalam harapan-harapanan.

 

 

 

 

 

Makna Puisi: 

Makna Bait 1
masyarakat hidup dalam sistem yang membuat batas kelas tidak jelas, sehingga mimpi dan
harapan mudah hilang dalam tekanan ekonomi.

Makna Bait 2
beberapa posisi pekerjaan membuat orang berada “di tengah” punya sedikit kekuasaan, tapi
tetap tidak memiliki kontrol penuh. Kontradiksi ini membuat mereka terjebak dalam sistem.

Makna Bait 3
mobilitas sosial tampak mungkin, tetapi tetap berada dalam kendali sistem sehingga
kebebasan yang dijanjikan tidak pernah sepenuhnya nyata.

Makna Bait 4
kelas menengah berada di titik paling kontradiktif menopang sistem yang juga menekan
mereka.

Makna Bait 5
mengenali luka sosial dan kontradiksi kelas adalah langkah awal menuju perubahan;
perjuangan makna dan harapan tetap hidup meski sistem menekan.

Scroll to Top