Sejarah dan Akar Neoliberalisme dalam Perspektif Teori Sosial
Neoliberalisme sering terdengar seperti istilah rumit dalam buku-buku tebal ekonomi politik, tetapi sebenarnya ia lahir dari pergulatan panjang manusia mencari cara terbaik mengatur kehidupan bersama. Ide ini tidak muncul tiba-tiba. Ia tumbuh dari sejarah panjang pemikiran liberal tentang kebebasan individu, kemudian berkembang menjadi sebuah sistem yang mempengaruhi hampir semua aspek kehidupan: dari harga barang di pasar, cara negara bekerja, hingga bagaimana manusia memaknai keberhasilan dan kegagalan.
Akar awal neoliberalisme dapat ditelusuri kembali ke abad ke-18 dan 19, ketika pemikir seperti Adam Smith meyakini bahwa pasar, jika dibiarkan bekerja tanpa terlalu banyak campur tangan negara, dapat menciptakan kesejahteraan melalui mekanisme “tangan tak terlihat”. Gagasan itu menjadi fondasi bagi liberalisme klasik. Namun, neoliberalisme baru benar-benar bangkit pada tahun 1970-an ketika dunia dilanda krisis ekonomi: harga minyak melonjak, pengangguran meningkat, dan negara-negara maju mulai kehilangan kepercayaan terhadap sistem ekonomi berbasis intervensi pemerintah seperti kebijakan Keynesian. Dalam situasi seperti itu, ide tentang pasar yang bebas dari campur tangan negara kembali dipandang sebagai solusi.
Tokoh-tokoh seperti Milton Friedman dan Friedrich Hayek kemudian menawarkan resep baru: serahkan urusan ekonomi pada pasar, kurangi peran negara, dorong privatisasi, dan biarkan kompetisi berjalan seluasnya. Dari sinilah neoliberalisme menjadi ide utama yang diadopsi banyak negara. Inggris di bawah Margaret Thatcher dan Amerika Serikat dengan Ronald Reagan adalah dua contoh paling kuat dari penerapan ide ini. Sejak itu, neoliberalisme tidak hanya menjadi kebijakan ekonomi, tetapi berubah menjadi cara pandang tentang bagaimana dunia seharusnya berjalan.
Dalam kajian teori sosial, neoliberalisme tidak dipahami sekadar sebagai perubahan kebijakan, tetapi sebagai sebuah perubahan cara hidup manusia modern. George Ritzer, misalnya, menjelaskan fenomena ini melalui konsep McDonaldization sebuah istilah yang pada dasarnya menggambarkan bagaimana logika restoran cepat saji merembes ke sekolah, rumah sakit, birokrasi, bahkan hubungan antarmanusia. Segala sesuatu diarahkan agar efisien, dapat dihitung, mudah diprediksi, dan dikendalikan. Dalam pandangan Ritzer, neoliberalisme mendorong dunia menjadi semakin seragam, seperti pusat perbelanjaan yang ada dimana saja tetapi terasa “kosong” secara makna. Kecepatan dan efisiensi memang meningkat, tetapi sesuatu yang lebih dalam kebudayaan, kehangatan, pengalaman manusiawi sering kali menghilang.
Sementara itu, Karl Marx meski hidup sebelum istilah neoliberalisme tercipta memberikan kacamata kritis yang sangat relevan. Bagi Marx, kapitalisme selalu bergerak memperluas diri, mencari keuntungan baru, dan memperdalam penguasaan terhadap tenaga kerja. Neoliberalisme, dalam perspektif Marxian, adalah tahapan ketika logika kapitalisme mencapai bentuk paling agresifnya. Privatisasi layanan publik, deregulasi pasar tenaga kerja, dan fleksibilitas kerja bukan hanya kebijakan teknis, tetapi mekanisme agar modal dapat terus mengalir tanpa hambatan. Dalam situasi seperti ini, pekerja menjadi semakin tidak aman dan rentan, sementara akumulasi kekayaan mengarah ke segelintir elite global. Marx menyebut kondisi seperti ini sebagai bentuk baru alienasi ketika manusia merasa terpisah dari hasil kerjanya, dari proses kerjanya, dan bahkan dari sesama manusia.
Pemikir dalam tradisi sosialisme lainnya juga melihat neoliberalisme dari sisi yang tidak kalah kritis. Teori ketergantungan menyoroti bagaimana negara berkembang dipaksa mengikuti arus neoliberalisme melalui utang, investasi asing, dan tekanan lembaga internasional. Dalam pandangan mereka, neoliberalisme tidak sekadar menciptakan perdagangan bebas, tetapi juga hubungan yang timpang antara negara kaya dengan negara miskin. Pierre Bourdieu bahkan menyebut neoliberalisme sebagai “utopia yang membunuh” sebuah ironi yang menggambarkan bagaimana impian pasar bebas ternyata melahirkan ketidakpastian hidup dan lemahnya solidaritas sosial.
Jika dilihat dari berbagai perspektif teori sosial tersebut, neoliberalisme bukan sekadar ide ekonomi abstrak, tetapi sesuatu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ia mempengaruhi bagaimana kita bekerja, berbelanja, bersaing, belajar, dan bahkan bagaimana kita memandang diri sendiri. Di satu sisi, neoliberalisme memang membawa efisiensi, kemajuan teknologi, dan pertumbuhan ekonomi. Namun di sisi lain, ia juga menyisakan pertanyaan besar tentang keadilan, kesenjangan sosial, dan masa depan kebersamaan manusia. Karena itu, memahami sejarah dan akar neoliberalisme bukan hanya memahami teori, tetapi juga memahami bagaimana dunia modern dibentuk andai kata apa yang kita anggap normal sebenarnya adalah hasil dari sebuah ideologi yang terus bekerja dalam kehidupan kita sehari-hari.