Tengah
Kami hidup di tengah,
bukan di bawah, bukan di atas,
bekerja rapi di ruang berpendingin
sambil menjual waktu
yang kami sebut masa depan.
Kami memberi arahan,
namun arah itu bukan kami yang menentukan.
Kami mengawasi pekerjaan orang lain
sambil diawasi oleh angka,
target, dan laporan berkala.
Keahlian memberi rasa aman,
setidaknya untuk sementara.
Namun pasar selalu punya cara
mengingatkan bahwa siapa pun
bisa diganti.
Kami diajari berdiri sendiri,
merayakan capaian personal
seolah itu murni hasil pilihan.
Pelan-pelan, jarak tumbuh
dari mereka yang nasibnya serupa.
Maka kami bertahan di posisi ini,
tidak jatuh, tidak juga naik,
menjaga keseimbangan rapuh
di sistem yang menamai ketidakpastian
sebagai hal yang normal.
Puisi ini menggambarkan kondisi individu yang berada pada posisi kelas menengah dalam sistem kapitalisme neoliberal, yaitu mereka yang tidak termasuk kelas atas sebagai pemilik modal, tetapi juga tidak sepenuhnya berada di kelas bawah. Tokoh dalam puisi ini bekerja sebagai pekerja bergaji dengan kondisi kerja yang relatif aman dan rapi, namun tetap harus “menjual waktu” dan bergantung pada pasar kerja. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun terlihat stabil, posisi tersebut tetap rentan dan tidak memiliki kendali nyata atas masa depan ekonomi mereka.
Puisi ini juga menekankan adanya kontradiksi peran, di mana seseorang bisa memberi arahan atau mengawasi pekerjaan orang lain, tetapi pada saat yang sama ia juga diawasi oleh sistem berupa target, angka, dan penilaian kinerja. Ini mencerminkan gagasan Erik Olin Wright tentang posisi kelas yang kontradiktif, yaitu individu yang menjalankan fungsi pengendalian dalam kerja, tetapi tidak memiliki kekuasaan atau kepemilikan atas alat produksi. Kekuasaan yang dimiliki bersifat terbatas dan berasal dari struktur, bukan dari kepemilikan.
Selain itu, puisi ini menunjukkan bagaimana keahlian dan pendidikan sering dianggap sebagai sumber keamanan. Namun dalam sistem neoliberal, rasa aman tersebut bersifat sementara karena nilai seseorang ditentukan oleh kebutuhan pasar. Ketika pasar berubah, keahlian bisa kehilangan nilainya dan individu tetap berisiko tergeser. Dengan demikian, keahlian tidak sepenuhnya membebaskan seseorang dari ketidakpastian ekonomi.
Puisi ini juga mengkritik budaya individualisme yang kuat dalam neoliberalisme. Individu diajarkan untuk merayakan pencapaian pribadi dan bersaing satu sama lain, sehingga perlahan kehilangan rasa kebersamaan dengan orang-orang yang sebenarnya memiliki nasib struktural yang sama. Akibatnya, solidaritas kelas melemah dan masalah bersama dipandang sebagai persoalan individu, bukan sebagai persoalan sistem.
Secara keseluruhan, puisi ini ingin menunjukkan bahwa ketidakpastian, tekanan kerja, dan posisi yang serba tanggung tersebut telah dinormalisasi dan dianggap wajar. Inilah kritik utama puisi ini: neoliberalisme tidak menghapus ketimpangan, tetapi membuatnya terasa biasa dan diterima sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Kondisi inilah yang oleh Erik Olin Wright dipahami sebagai posisi kelas yang kontradiktif dalam kapitalisme modern